“Thet…thet” akhirnya bel tanda berakhirnya fisika terdengar juga.
Aku bergegas menuju kantin karena memang laparku sudah mencapai stadium 4. Seperti biasa bu kantin menyuruhku mengambil nasi semauku, karena aku memang langganan dari awal aku masuk SMA ini. “Ajack baru saja naik” kata bu kantin sambil membuatkanku es teh. “mbolos ma siapa ja bu?” tanyaku sambil menuangkan kuah soto ke mangkuk ku. “sendirian aja, katanya males mau ke kelas pasti sudah telat gitu” ujar bu kantin kembali. Memang kebiasaanku memanfaatkan waktu luang diantara dua mapel untuk sarapan. Alasanku karena kantin sepi sehingga aku bisa menikmati makanan.
Berbeda dengan saat istirahat, asap rokok dan kegaduhan tak akan membuat nyaman suasana kantin.
“bayarnya nanti ya bu…sekalian pas istirahat” ujarku setelah selesai makan. “ya…” jawab bu kantin singkat. Memang menjadi kebiasaan kalau aku suka membayar dengan cara itu. Tidak ada alasan pasti karena hanya kebiasaan semata. Setelah itu aku beranjak untuk segera kembali ke kelas namun, baru ssampai di depan pintu kantin beberapa teman sekelasku malah menyusul aku ke kantin. “kosong lagi brow, biasa pak bos sibuk!” kata diki membicarakan guru favorit kami pak guru kimia. Memang kami begitu dekat dengan beliau sehingga kami memanggilnya pak boss. Langsung saja aku kembali duduk dan bercanda dengan teman-temanku. Kami dikenal dengan sebutan ‘the gambiz’ yang beranggotakan 9 orang termasuk aku.
Tak berselang lama datanglah geng dari IPS 1. Dan disana sudah passti ada Ajack,Kenit,dan Idair. Nama terakhir yang ku sebut adalah adikku juga merangkap teman baikku. “edan…anak IPA 1 sudah mendahului kita nih!!!” ujar kenit setengah berteriak. “siapa dulu ‘danyang’ kantin ini” sahut Q-man, teman sekelasku yang juga anggota ‘the gambiz’. Menurutku dia adalah orang yang paling pintar melucu diantara anggota ‘the gambiz’ lainnya. Walau kami sudah seperti grup lawak dalam kelas, tetap ssaja dia semacam kapten tim dari ‘the gambiz’.
Kantin menjadi penuh tawa ketika kedua kelas ini berkumpul. XII IPA 1 dan XII IPS 1 ibarar barang komplementer,saling melengkapi. “ oh ya…ker ocker bandmu ikut manggung di dies natalis pa enggak?” Tanya diki pentolan grup band ‘the jinggle’. “gampang tinggal ada uang buat latihan apa enggak?” jawabku. “ya gak jack?” lanjutku. “hê êh” jawabnya singkat sambil makan nasi plus oseng oseng buncis. “nggarap apa cuy...?” Tanya si pur yang juga anggota ‘the gambiz’, dia adalah additional player di band ‘INFUZ’. Sebenarnya ada pikiran untuk menjadikan dia pemain tetap. Namun, dia agak sulit diajak latihan, maklumlah dia sedang ‘balen’ dengan mantannya dan sedang mesra mesranya. Dengan adanya si pur, sebenarnya melengkapi band kami dan menjadi variatif karena dia bisa bermain drum dan juga gitar. “biasa ST 12 dan Naff” jawab wega sambil menghisap djarum kesukaannya. “reques kau masih kekasihku!” sahut asep bersemangat. “tak seindah cinta yang semestinya, oke coy…!” tambahku. “ halah lagu pesanan gia tho?” lanjut wega. Aku hanya tersenyum kecil dan menahan malu. Memang aku dekat dengan cewek yang bernama gia itu, bahkan aku mengidamkannya. Namun sayang dia sudah ada yang punya sehingga sekarang aku lebih mirip fans yang mengidolakan seorang artis. “ST 12 nya apa?” Tanya Ajack sambil menepuk pundakku, dia tahu aku pasti sedang melamun. “Terserah kamu ruang hidup atau jalan terbaik” jawabku masih sedang melamun. Pikiranku menerobos jauh pada imajinasiku yang melayang entah kemana namun masih dalam tema musik.
bersambung.............

0 komentar:
Posting Komentar